Sungguh indah dan nyaman perasaan apabila mendapat kasih sayang daripada Tuhan yang sentiasa menyediakan segala keperluan kita, meluaskan keampunan dan rahmat-Nya kepada kita. Kemuncak daripada perjalanan kehambaan ini adalah apabila dijemput untuk menziarahi Allah di syurga kelak. Digambarkan oleh ‘ulama; apabila mendapat jemputan tersebut, hati terasa begitu berdebar bagaikan hendak tercabut jantung.
Berkata Syeikh Ahmad bin Abi al-Huwara di dalam kitab Zuhud: Aku telah mendengar sebahagian daripada sahabat kami, kalau tidak salah dia ialah Abu Sulaiman ad-Darani rhadhiyallahu ‘anhu berkata:

Sesungguhnya bagi iblis itu ada seorang syaitan yang bertugas untuk merosakkan amalan seorang ahli ‘ibadat yang mungkin mengambil masa 20 tahun lamanya. Tugasnya adalah menggoda ahli itu sehingga ia bercerita kepada orang lain yang ia melakukan sesuatu amalan dalam rahsianya. Maka syaitan ini akan merasa puas hati kalau boleh ia menjadikan pahala ahli ‘ibadat itu menurun daripada tingkatan sirr (rahsia) kepada tingkatan jahr (nyata).

Wednesday, 28 September 2011

Kisah Akhlak Para Solihin

Allah swt. berfirman:"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yang agung." (Q.s. A-Qalam: 4).

Diriwayatkan oleh Anas bahwa seseorang bertanya kepada Nabi saw : "Wahai Rasulullah, siapakah di antara orang-orang beriman yang paling utama imannya?" Beliau menjawab:"Yaitu mereka yang paling baik akhlaknya." (H.r. Ibnu Majah)

Akhlak yang baik adalah keutamaan sejarah hidup hamba, sehingga mutiara-mutiara seseorang dapat tampak. Manusia itu terlapisi oleh fisiknya, namun terungkap oleh akhlaknya.Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq juga berkata, "Allah swt. menganugerahi Nabi-Nya saw. dengan keistimewaan sifat beliau, dengan pujian yang sama sekali tidak pernah dipujikan kepada makhluk lain. Karena itu Allah swt. berfirman, 'Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur'.

Muhammad al-Wasithy mengatakan, "Allah swt. memberi predikat beliau dengan akhlak yang agung, karena beliau merelakan diri dari dunia dan akhiratnya, dan merasa puas hanya dengan Allah swt. semata." Al-Wasithy juga mengatakan, "Akhlak yang mulia berarti orang tidak bertengkar dengan orang lain, tidak memusuhi oleh mereka, karena hamba itu diluapi kedahsyatan ma'rifat kepada Allah swt."Al-Husain bin Manshur menjelaskan, "Akhlak mulia adalah, bahwa engkau tidak terpengaruh kekasaran orang banyak, setelah engkau memperhatikan Al-Haq."Abu Sa'id al-Kharraz mengatakan, "Akhlak mulia berarti engkau tidak mempunyai cita-cita selain Allah swt."Al-Kattany menegaskan, "Tasawuf adalah akhlak. Barangsiapa bertambah dalam akhlak berarti bertambah pula dalam tasawuf."

Riwayat dari Ibnu Umar r.a. yang mengatakan, "Jika engkau mendengar aku mengatakan kepada seorang budak, 'Semoga Allah melaknatimu,' maka saksikanlah bahwa aku telah memerdekakannya."Al-Fudhail bin `Iyadh mengatakan, "Jika seseorang bertindak dengan akhlak mulia dalam segala hal, tapi ia memperlakukan ayamnya dengan buruk, maka tidak dapat dianggap berakhlak baik."Dikatakan, "Apabila Ibnu Umar melihat salah seorang budaknya melaksanakan shalat dengan baik, beliau akan memerdekakannya.

Budak-budaknya semua tahu akan hal itu, dan mereka mengerjakan shalat dengan baik hanya semata agar dilihat olehnya. Sekalipun demikian, Ibnu Umar masih tetap memerdekakan mereka. Ketika seseorang hendak menipu kami demi Allah, maka kami akan membiarkan diri kami ditipu demi Dia."Al-Harits al-Muhasiby mengatakan, "Kita akan merasa rugi jika kehilangan tiga hal: Wajah cerah disertai dengan kesantunan, kata-kata yang diucapkan dengan baik dan disertai kejujuran, serta persaudaraan yang kuat dipadu dengan kesetiaan." .Abdullah bin Muhammad ar-Razy mengatakan, "Akhlak berarti memandang rendah apa pun yang datang darimu, dan mengagungkan yang datang dari Allah swt."Al-Ahnaf bin Qays ditanya, "Siapa yang mengajarkan akhlak kepadamu?" Ia menjawab, "Qays bin Ashim al-Munaqqary." Orang itu bertanya lagi, "Bagaimana akhlaknya?" Al-Ahnaf menuturkan, "

Suatu ketika ia sedang duduk-duduk di rumahnya ketika seorang budak wanita masuk dengan membawa tusuk daging yang membara. Benda itu jatuh menimpa salah seorang anaknya, yang kemudian meninggal dunia. Budak itu sangat berduka. Qays mengatakan kepadanya, `Jangan khawatir. Engkau kumerdekakan, karenaAllah'."Syah al-Kirmany menuturkan, "Satu tanda akhlak yang baik adalah, bahwa engkau mencegah bahaya, dan secara rela menanggung kerugian yang mereka timpakan kepadamu."Rasulullah saw bersabda :"Engkau tidak akan dapat memberikan kebahagiaan orang lain dengan hartamu, karenanya berilah kebahagiaan dengan wajah yang manis dan akhlak yang baik." (H.r. Al-Bazzar dan Hakim).

Seseorang bertanya kepada Dzun Nuun al-Mishry,. "Siapakah orang yang paling banyak cemas?" Ia menjawab, "Orang yang paling buruk akhlaknya."Wahb menegaskan, "Jika seorang hamba memperaktikkan akhlak mulia selama empatpuluh hari; Allah akan menjadikan akhlak mulia sebagai sifat bawaan baginya."Ketika menafsirkan firman Allah swt. : "Dan pakaianmu, hendaklah engkau bersihkan." (Q.s. AI-Muddatstsir: 4).

Hasan al-Bashry menjelaskan bahwa ayat ini berarti, "Dan akhlakmu itu, perindahlah."Seorang Sufi memiliki seekor domba betina. Ketika ia menemukan salah satu kakinya terpotong, ia bertanya, "Siapa yang melakukan ini?" Salah seorang budaknya menjawab, "Saya." Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal itu, si budak menjawab, "Untuk membuat tuan bersedih karenanya." Sufi itu menjawab, "Itu tidak terjadi, tapi aku merasa sakit dengan tindakanmu itu. Pergilah, engkau kumerdekakan."Ibrahim bin Adham ditanya, "

Apakah Anda pernah senang di dunia ini?" Ia menjawab, "Ya, dua kali. Yang pertama, ketika aku sedang duduk-duduk dan seorang laki-laki datang mengencingiku. Yang kedua, ketika aku sedang duduk-duduk dan seorang laki-laki datang menempelengku."Dikatakan bahwa manakala anak-anak melihat Uways al-Qarany mereka selalu melemparinya dengan batu. Karena itu Ia mengatakan kepada mereka, "Jika kalian memang harus melempariku, gunakanlah batu yang kecil agar kakiku tidak terluka, yang membuatku terhalang shalat."Suatu ketika seorang laki-laki memaki Ahnaf bin Qays dan menghinanya. Orang itu mengikuti di belakangnya.

Ketika al-Ahnaf sampai di dekat lingkungan kediamannya sendiri, ia berhenti dan menasihati orang itu, "Wahai anak muda, jika engkau masih punya kata-kata untuk diucapkan, katakanlah sekarang, sebelum salah seorang tetangga dekat yang bodoh mendengar, dan menjawab kata-katamu!"Hatim al-Asham ditanya, "Haruskah seseorang menanggung beban dari setiap orang?" Ia menjawab, "Ya, kecuali dari dirinya sendiri."Diceritakan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib r.a. suatu ketika memanggil salah seorang budaknya, tapi si budak tidak menjawab. Beliau mengulangi panggilannnya dua hingga tiga kali, tapi si budak masih tetap tidak menjawab.

Ketika beliau datang melihat budak itu dan menemukannya sedang tidur-tiduran, Ali bertanya, 'Apakah engkau tidak mendengar panggilanku?" Ia menjawab, "Ya, saya mendengar." Beliau bertanya, "Lantas mengapa engkau tidak datang?" Si budak menjawab, "Saya merasa aman dari hukuman tuan, jadi saya malas." Ali berkata kepadanya, "Pergilah, engkau merdeka karena Allah swt."Diceritakan bahwa ketika Ma'ruf al-Karkhy pergi berwudhu, ia meletakkan Al-Qur'an dan jubahnya. Seorang wanita datang dan membawanya. Ma'ruf mengikutinya dari belakang.

Wahai saudaraku, aku adalah Ma'ruf al-Karkhy, engkau tidak apa-apa atas perbuatanmu ini. Apakah engkau punya seorang anak laki-laki yang dapat membaca Al-Qur'an?" Wanita itu menjawab, "Tidak." Ma'ruf bertanya, "Seorang suami?" "Tidak," jawab wanita itu. Ma'ruf lalu berkata, "Kalau begitu, berikanlah Al-Qur'an itu kembali kepadaku dan ambillah jubah itu!"Para pencuri memasuki rumah Syeikh Abu Abdurrahman as-Sulamy dan mencuri segala sesuatu yang berharga. Salah seorang sahabat kami mendengar syeikh tersebut menuturkan, "Suatu hari, aku melewati pasar dan kulihat jubahnya sedang dilelang, tapi aku berpaling menjauh tanpa menaruh perhatian sedikit pun padanya.

Al-Jurairy mengabarkan, "Aku baru saja pulang dari Mekkah, dan hal pertama yang kulakukan adalah mengunjungi al-Junayd agar tidak mengangan-angan diriku. Aku memberi salam kepadanya dan pulang ke runlah. Keesokan harinya ketika aku shalat subuh di masjid, aku melihatnya berdiri pada shaf di belakangku. Aku berkata, Aku mendatangimu kemarin hanya supaya engkau tidak mengharap-harap diriku.' Ia menjawab, 'Itulah keutamaanmu. Dan itulah hakmu'."Ketika Abu Hafs ditanya tentang akhlak, ia mengatakan, "Akhlak adalah pilihan Allah swt. untuk Nabi-Nya saw. dalam firman-Nya, 'Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf!' (Q.s. Al-A'raf :199)."Dikatakan, "Akhlak berarti engkau dekat orang banyak, tapi asing terhadap urusan-urusan mereka."

Dikatakan pula, "Akhlak yang baik adalah bagaimana menerima perlakuan kasar manusia dan ketentuan Al-Haq tanpa merasa sedih dan cemas."Dikatakan bahwa Abu Dzar memberi minum untanya di sebuah bak kolam air. Tiba-tiba ada sebagian orang yang menabraknya. Bak air itu pecah. Abu Dzar duduk, kemudian berbaring. Seseorang bertanya kepadanya mengapa berbuat begitu, ia menjawab, "Rasulullah saw memerintahkan kita, bahwa jika seseorang merasa marah, hendaklah ia duduk sampai marahnya reda. Jika tidak reda juga, hendaklah ia berbaring."Tertulis dalam kitab Injil, "Hamba-Ku, ingatlah kepada-Ku ketika engkau sedang marah, maka Aku akan mengingatkanmu ketika Aku marah."Luqman berkata kepada anaknya,

Ada tiga macam orang yang tidak dikenali kecuali pada tiga perkara, `Seorang murah hati ketika marah, seorang pemberani di saat perang, dan seorang saudara saat dibutuhkan'."Musa as. berkata, "Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar tidak dikatakan kepadaku, hal-hal yang bukan diriku."Allah mewahyukan kepadanya, 'Aku tidak pernah melakukan hal itu untuk Diri-Ku. Bagaimana Aku bisa melakukannya untukmu?"Yahya bin Ziyad al-Haritsy ditanya, berkaitan dengan seorang budak yang buruk perilakunya. "Mengapa engkau masih tetap memeliharanya?" Ia menjawab. "Agar aku dapat belajar bermuruh hati."Tentang firman Allah swt. "... dan (Dia) menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin" (Q.s. Luqman: 20) mempunyai makna bahwa "lahir" berarti pembentukan fisik manusia, dan "batin" adalah penyucian akhlak.Al-Fudhail bin Iyadh berkata. 'Aku lebih suka berteman seorang penjahat penuh dosa, tetapi akhlaknya baik daripada seorang saleh yang akhlaknya buruk.Dikatakan. "Akhlak yang baik berarti menanggung penderitaan dengan penuh kegembiraan.

Diceritakan. bahwa Ibralrim bin Adham pergi ke salah satu padang pasir yang luas. Tiba-tiba seorang tentara muncul di hadapanya dan bertanya. "Di mana kampung paling ramai?" Ibrahim menunjuk ke kuburan. Tentara itu lalu memukul kepala Ibrahim bin Adham. Ketika akhirnya ia melepaskan Ibrahim, seseorang mengatakan kepadanya, "Itu tadi Ibrahim bin Adham. Sufi dari Khurasan." Tentara itu lalu meminta maaf kepada Ibrahim. Ibrahim berkata. "Ketika engkau memukulku, aku berdoa kepada Allah swt. agar memasukkanmu ke dalam surga." Tentara itu bertanya, ":Mengapa?" Ibrahim menjawab, "Sebab aku tahu bahwa aku akan memperoleh pahala karena pukulan-pukulanmu itu. Aku tidak ingin nasibku menjadi baik dengan kerugianmu, dan perhitungan amalmu menjadi buruk karena diriku."Diriwayatkan, ada seoraog laki-laki mengundang Sa'id bin Ismall al-Hiry ke rumahnya.

Ketika Sa'id muncul di muka pintu rumah orang im, orang itu mengatakan kepadanya. "Wahai Syeikh, ini bukan waktu yang baik bagi Tuan untuk masuk ke dalam rumahku. Aku benar-benar menyesal. Maaf, silahkan pergi." Ketika Sa'id datang lagi ke rumahnya, orang itu menyuruhnya pergi lagi seraya mengatakan, "Maaf Tuan." Ia meminta maaf kepada Sa'id dan menyuruhnya supaya datang lagi pada suatu waktu tertentu. Sa'id pun pergi. Ketika datang lagi, orang itu mengatakan hal yang sama. (Peristiwa itu sempai berulang empat kali). Akhirnya orang itu menjelaskan, "Wahai Syeikh, aku hanya ingin menguji Anda." Ia lalu meminta maaf kepadn Sa'id dan memuji-mujinya. Sa'id menjawab, "Jangan memujiku karena sifat yang juga dimiliki oleh seekor anjing: jika anjing dipanggil, ia datang; jika diusir, ia pergi."

Dikisahkan bahwa Sa'id al-Hiry sedang melewati jalan menjelang tengah hari ketika seseorang di atas atap menumpahkan seember abu ke atas kepalanya. Kawan-kawannya menjadi marah dan mulai meneriaki orang yang menumpahkan abu itu. Sa'id berkata, "Jangan mengatakan apa-apa! Orang yang layak memperoleh neraka, tapi hanya dikenai abu saja tidak berhak untuk marah." Dikatakan, salah seorang dari para fakir sedang menjadi tamu di rumah Ja'far bin Handzalah, yang melayaninya sebaik mungkin. Fakir itu berkata, "Anda betul-betul orang yang baik. Sayang Anda seorangYahudi." Ja'far menjawab, "Agamaku tidak mempengaruhi caraku melayani kebutuhanmu. Berdoalah agar jiwamu disembuhkan dan aku memperoleh hidayatnya!"

Diceritakan bahwa Abdullah al-Khayyath mempunyai pelanggan jahitan baju seorang Majusi. Orang itu biasa membayarnya dengan uang dirham palsu dan Abdullah menerima saja uang palsu itu. Suatu hari ketika Abdullah sedang sibuk di suraunya, orang Majusi itu datang untuk mengambil pakaian pesanannya dan mencoba membayarnya dengan dirham-dirham palsu, yang diberikan kepada muridnya, namun oleh murid itu ditolaknya. Akhirnya si orang Majusi itu membayar dengan uang dirham asli. Ketika Abdullah kembali, ia bertanya kepada muridnya, "Di mana pakaian pesanan orang Majusi itu?" Si pembantu menceritakan apa yang telah terjadi. Abdullah memarahinya. Katanya, "Engkau telah melakukan kesalahan. Selama beberapa waktu, kami telah melakukan bisnis dengan caranya itu, dan aku bersabar saja. Dirham-dirham palsu itu biasanya kulemparkan ke dalam sumur agar ia tidak menipu orang lain, selain diriku."Rasulullah saw ditanya, "Apakah yang disebut celaka itu?" Beliau menjawab. "Akhlak yang buruk."Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, bahwa seseorang memohon kepada Rasulullah saw.:"Wahai Rasulullah! Mohonlah kepada Allah swt. agar membinasakan orang-orang musyrik itu!" Beliau menjawab, 'Aku diutus sebagai rahmat, bukan sebagai penyiksa." (H.r. Muslim).Dikatakan, "Akhlak yang buruk menyempitkan hati pelakunya. Sebab ia tidak memberikan ruang bagi apa pun selain hawa nafsunya sendiri, dan hati menjadi seperti sebuah ruangan sempit yang hanya cukup bagi pemiliknya."Dikatakan pula, "Akhlak yang baik berarti bahwa engkau tidak peduli siapa pun yang berdiri di sebelahmu dalam shaf ketika shalat."Dikatakan juga, "Satu tanda keburukan akhlak Anda, manakala Anda hanya tertuju pada keburukan akhlak orang lain."


Read more: http://cahayamukmin.blogspot.com/search/label/Kisah#ixzz1ZJNtTQp1

Wahai anak, tidurlah di bawah aliran takdir, berbantal dengan kesabaran, setujuilah takdir, dan beribadah dengan menunggu kelapangan." 
~Sheikh Abdul Qadir Jailani~

Tuesday, 27 September 2011

Kisah Mencari Tuhan


Tersebutlah satu kisah bahawa sewaktu Nabi Musa AS telah sampai di negeri Mesir setelah kembali dari negeri isteri Baginda di Madyan, maka Baginda telah menyampaikan risalah ke Rasulannya dan ajaran-ajaran agama yang telah diterima dari Tuhannya sewaktu menyendiri di bukit Tursina (Sinai) di lembah Thuwaa dengan ayat-ayat dalam kitab Taurat.

Dimulainya seruan ini kepada kaumnya Bani Israil di samping menghadapi Firaun dengan kaumnya yang memerintah Mesir waktu itu. Yang menjadi pokok ajaran Nabi Musa sama saja dengan asas ajaran segala Nabi SAW dan Rasul sebelum dan sesudahnya. laitu:

Bahawa kamu menyembah Allah dan janganlan kamu persekutukan-Nya dengan sesuatu pun!

Akhirnya sampailah seruan dan ajaran Nabi Musa ini ke satu negeri kecil yang jauh terpencil di hulu sungai Nil. Nama negeri itu Qiryah.

Adapun penduduk negeri ini antara seribu ke tiga ribu orang yang kebanyakannya terdiri dari suku-suku Bani Israil. Di antara orang-orang beriman yang tinggal di sana termasuklah seorang pemuda yang bernama Abdullah Syarafi. Pemuda tersebut tidak berasa puas hati sekadar beriman begitu saja kepada Allah SWT, malahan timbul keinginan dalam dirinya untuk mengetahui nyata siapakah sebenarnya Allah, Tuhan yang akan disembahnya nanti.

Perasaan ini mengganggu benaknya siang dan malam. Akhirnya beliau membuat satu keputusan. laitu dia akan pergi ke Mesir untuk menemui Nabi Musa AS supaya dapat bertanyakan halnya itu.

Qiryah ialah satu negeri yang jauh. Perjalanan ke Mesir memakan masa berhari-hari dengan menempuhi berbagai kesukaran mendaki bukit-bukau, merentasi hutan rimba yang tebal, penuh dengan binatang buas, melintas pula padang pasir tandus yang kering kontang. Semua itu sudah terbayang di kotak ingatannya.

Tetapi adakah itu semua menghalang beliau untuk meneruskan niatnya. Sama sekali tidak. Abdullah Syarafi terus bersiap-siap dan pada satu saat dan hari yang dikiranya baik, lalu mulalah beliau mengatur langkah seorang diri.

Sesudah menempuh beberapa hari perjalanan, kini hutan rimba menanti di hadapannya. Hutan rimba itu merupakan suatu pemandangan yang mengerikan. Sunyi dari suara manusia. Beliau terus melangkah semakin jauh ke tengah hutan rimba.

Tiba-tiba, beliau dikejutkan oleh satu pemandangan yang menakutkan sekaligus amat menyedihkan. Apa yang ditemuinya ialah sekujur tubuh manusia yang sudah dianiayai. Tubuh yang cuma tinggal badan dan kepala itu terlantar di bawah satu pohon. Kedua-dua kaki dan tangannya telah dipotong. Dia tidak dapat bergerak lagi kemana walaupun sekadar untuk mengiring ke kiri atau ke kanan.

Kaki dan tangannya yang sudah terpisah itu telah hampir reput dan penuh dikerumui ulat, lalat dan bermacam-macam binatang kecil yang memakan bangkai. Demikianlah keadaannya sehingga tiada apa lagi yang dinanti melainkan maut sahaja. Pemandangan itu amat mengharukan perasaan Abdullah Syarafi.

Namun! Satu perkara sangat mengejutkan beliau. Dilihatnya beratus-ratus ekor semut bergotong royong mengusung dengan susah payahnya akan buah-buah hutan. Dengan perlahan-lahan buah hutan itu dibawa hingga ke mulut insan yang malang itu. Lalu dapatlah dia makan dan menyambung sisa-sisa nyawa yang masih ada.

Kepada Abdullah Syarafi lalu diceritakan kisah dirinya hinggalah beliau jadi begitu sengsara. Katanya, semua itu berpunca dari perbuatan satu kumpulan penyamun yang telah merampas harta bendanya. Kemudian diceraikan pula kaki tangannya dan ditinggalkan di dalam hutan itu sejak lima hari yang lalu.

Hanya Allah SWT saja yang tahu betapa besarnya kesengsaraan yang ditanggungnya. Tetapi rupanya, ajal belum ditakdirkan untuknya lalu digerak Tuhan akan ratusan semut-semut untuk membawakan buah hutan sebagai rezekinya.

Itulah makanannya sejak terlantar tidak berkaki dan tidak bertangan.

Abdullah Syarafi pun menceritakan hal ehwal dirinya dan tujuannya untuk ke Mesir. Setelah habis diceritakan lalu orang itu berkata:

"Kalau begitu, tolonglah tanyakan kepada Nabi Musa, sesudah sampai begini rupa kekejaman orang terhadap diriku, maka adakah aku akan masuk syurga dengan menanggungnya?"

"Baiklah," balas Abdullah Syarafi dengan perasaan yang hancur luluh, lalu dia pun meminta izin untuk menyambung perjalanannya.

Abdullah Syarafi pun meneruskan perjalanannya yang masih jauh itu.

Beberapa hari kemudian, beliau terserempak dengan kumpulan penyamun yang telah menzalimi lelaki malang yang ditemuinya sebelum itu.

Rupanya Abddulah telah memasuki kawasan 'sarang' penyamun. Didapatinya mereka amat garang, bengis dan tidak ada tanda bersifat belas kasihan di wajah mereka. Sembilan orang semuanya.

Mulanya mereka hendak merampas barang-barang yang ada pada Abdullah, tetapi bila tidak mereka temui sesuatu pun yang berharga, lalu mereka bercadang untuk membunuhnya.

Berkata Abdullah, "Jikalau kematianku ada guna dan manfaatnya kepada tuan-tuan semua, maka bunuhlah hamba."

Tenang saja Abdullah menuturkan kata-katanya. Tidak ada rasa takut sedikit pun kerana beliau yakin bahawa Allah yang sudah dipercayainya diimaninya itu tidak akan membiarkan hal itu berlaku jika ianya memang tidak ditakdirkan atas dirinya.

"Tetapi," sambung Abdullah lagi, "Menurut fikiranku, tiada gunanya sama sekali tindakan tuan-tuan. Bahkan hanya akan mendatangkan kesusahan dan jadi beban pula kepada tuan-tuan. Kerana jika aku tuan-tuan bunuh, terpaksa pula mayat aku ditanam. Bermakna tuan-tuan terpaksa menggali tanah. Alangkah banyaknya kerja tuan-tuan hanya untuk menguruskan sekujur mayatku."

Abdullah Syarafi memerhatikan riak di wajah mereka. Kata-katanya memberi kesan terus ke hati mereka.

"Atau, jika tuan-tuan ingin membuang mayatku dari sini, tentulah terpaksa pula mengheret mayatku sekian jauh

Jikalau tidak, maka akan terganggulah tempat tuan-tuan ini oleh sebab busuknya bau mayatku nanti.

Maka jelaslah, jika tuan-tuan tetap akan membunuhku, hanya akan menyusahkan diri tuan-tuan juga.

Sedangkan manusia diberi akal oleh Tuhan. Supiaya dapat dengannya kita menimbang buruk baiknya sesuatu yang akan dikerjakan. Adakah ia memberi faedah atau sebaliknya. .."

Demikianlah Abdullah Syarafi terus berbicara hingga mulalah dia menceritakan hal ehwal dirinya dan tujuan dia menempuh perjalanan yang penuh bahaya itu. Selanjutnya berkata Abdullah, "Tuan-tuan, selama mana pun manusia hidup, akhirnya. akan mati juga.

Dan kelak sesudah mati, tiap-tiap manusia akan menghadapi pengadilan Tuhan. Menerima hukuman atas segala kejahatan yang telah dilakukannya. Jadi, bertaubatlah tuan-tuan dan berhentilah dari kejahatan ini sementara pintu dan jalan untuk taubat masih terbuka."

Demikianlah Abdullah mengakhiri nasihatnya. Dengan kehendak Allah jualah, maka segala tutor kata dan nasihat Abdullah Syarafi yang bersungguh-sungguh dian dengan penuh ikhlas itu rupanya menyelinap masuk ke dalam hati mereka langsung meresap masuk ke dalam perasaan keinsafan.

Lantas berbicara seorang dari mereka. "Bagaimanakah kami akan bertaubat Sedangkan dosa-dosa kami sudah terlalu amat banyak. Sudah sekian banyak harta benda manusia yang kami rampas, kami samun. Belum lagi dihitung penganiayaan yang telah kami lakukan terhadap mereka. Adapun nyawa manusia sahaja, sudah sembilan puluh sembilan yang terbang melayang.

Tetapi, meskipun demikian, memang kami telah mempunyai rasa takut terhadap azab-azab Allah di akhirat kelak. Oleh kerana tuan hamba akan pergi bertemu Nabi Musa, maka tolonglah tanyakan keadaan kami ini. Adakah Allah akan menerima taubat kami ini.. ?"

"Baiklah, akan hamba tanyakan kepada Nabi Musa," jawab Abdullah Syarafi dan dia pun meneruskan perjalanannya.

Selanjutnya, tinggal satu pertiga saja lagi perjalanannya, Abdullah Syarafi sedang melewati padang pasir yang tandus pula. Terdapat bukit-bukit berbatu-batan di beberapa tempat.

Tiba-tiba, beliau terserempak pula dengan seorang perempuan yang tinggal dalam sebuah gua batu. Perempuan setengah umur itu didapatinya tinggal di situ seorang diri.

Wanita separuh umur itu sedang tekun beribadah ketika Abdullah Syarafi terpegun melihatnya dengan rasa kagum.

Takala dia sudah selesai dari solatnya dan mendapati ada seorang pemuda tercegat di pintu guanya maka terkejutlah dia seraya membentak, "Siapa kamu? Apa yang kamu mahu? Adakah kamu hendak mengganggu ibadatku di sini?"
"Tidak! Sama sekali tidak bahkan hamba tidak tahu menahu adanya tuan hamba di sini. "Jawab Abdullah dengan tenang saja. Dan tidak langsung terlintas dalam benaknya untuk berlaku jahat.

"Tapi hamba amat hairan. Sebab melihat keadaan tuan hamba yang sendirian di sini. Jauh dari manusia dan tekun pula beribadah. Tidakkah tuan hamba berasa takut tinggal seorang di sini? Bahkan hamba pada mulanya menyangka tuan hamba ini entahkah jin atau peri yang menghuni tempat ini. Bolehkah tuan hamba menceritakan mengapa tuan hamba berada di sini?"

"Tuan hamba pula dari mana dan apa tujuan?" Tanya perempuan itu pula.

Lalu untuk kali ketiganya, Abdullah Syarafi pun menceritakan hal ehwal dirinya dari mula dia beriman dengan risalah yang disampaikan oleh Nabi Musa AS hinggalah dia menempuh perjalanan yang serba sukar, bahaya dan meletihkan itu.

Setelah itu perempuan itu pula menceritakan hal ehwal dirinya. Maka fahamlah oleh Abdullah bahawa perempuam itu berada di situ kerana mahu mengasingkan dirinya dari manusia untuk melakukan ibadatnya dengan tekun.

Tidak diganggu oleh sesiapa. Dia juga berasal dari Mesir. Sudah bersuami dan punya beberapa orang anak.

Tetapi lantaran berasa khuatir, semua itu akan menghalanginya dari melakukan ibadat kepada Tuhannya, maka dia pun ber'uzlah' ke tempat sunyi itu.

"Hamba senang berada di sini." Tambah wanita itu lagi, "Asyik beribadat. Siang berpuasa. Malam beramal. Hidup hamba kini semata-mata untuk Tuhan dan hamba tidak lagi rasa khuatir akan terganggu oleh urusan rumah tangga, suami dan anak-anak juga masyarakat dan oleh kerana tuan hamba akan pergi bertemu Nabi Musa, tolonglah tanyakan kepada Baginda, adakah Tuhan menerima sekelian ibadat dan amal hamba ini dan memasukkan hamba ke dalam syurga-Nya lantaran demikian banyaknya amalan hamba ini." "Baiklah. Akan hamba tanyakan."

Lalu Abdullah Syarafi pun mohon izin dan dia pun berlalu dari situ, Tiada lama kemudian, sampailah dia di Mesir dan setelah dapat berjumpa dengan Nabi Musa AS maka segeralah dia menyatakan maksud kedatangannya yang hendak mencari Tuhan supaya biar tentu benar siapa Allah Tuhan yang hendak disembahnya itu.

Sebelum dia menutup kisah dirinya, sempat dia menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang dipesankan oleh mereka yang ditemuinya semasa dalam perjalanan. Jawab Nabi Musa AS:

"Wahai Abdullah Syarafi! Engkau fikirkanlah dan renungkanlah akan sifat-sifat dan makhluk bekas kekuasaan Allah SWT itu. Jangan sekali-kali engkau memikirkan zat Nya. Kerana engkau tidak akan sama sekali dapat memikir-Nya walau bagaimama sekali susah payahnya engkau.

Tetapi sentiasalah engkau akan menemui bukti kewujudan Allah itu pada semua bekas kekuasaannya yakni kejadianNya. Lihatlah alam yang terbentang ini. Termasuk juga kejadian dirimu sendiri, adalah menjadi saksi dan bukti akan adanya Tuhan. Dari mana engkau dan semua makhluk yang ada telah datang dan kemanakah nanti akan pergi?

Wahai Abdullah Syarafi, jangankan hendak menemui wujudnya Zat Tuhan itu yang memang sudah sengaja dighaibkan oleh-Nya kepada kita semua sekarang ini. Entah mungkin nanti dizahirkan-Nya di akhirat, kalau memang hijab sudah diangkatNya. Bahkan sesuatu yang ada dalam tubuhmu yang kamu sendiri pasti akan adanya dan kamu dapati bekas-bekas dan kesan perbuatanya, itupun tidak dapat kamu melihatnya. Yakni ruh kamu sendiri.

Maka apatah lagi Zat Dia yang telah mengadakan segalanya itu!

Jikalau Allah SWT menzahirkan Zat-Nya kepada kita ummat manusia sekarang ini... maka apalah gunanya lagi tugas kami sebagai Rasul utusan-Nya ini. Sedangkan kami ini menyampaikan khabar-khabar ghaib yang wajib diimani dipercayai itu?

Maka bukankah telah nyata bahawa ghaibnya Zat Tuhan dijadikan suatu ujian bagi keimanan seseorang hamba."

Termenung. Terpegun dan bungkamlah Abdullah Syarafi mendengar huraian yang sangat tepat dari Nabi Musa AS itu. Terus meresap ke dalam relung-relung kesedaran jiwanya akan segala kebenaran yang dituturkan oleh RasuluLlah Musa AS itu.

Dan dia mendengar lagi huraian-huraian selanjutnya bagi tiga persoalan yang dibawanya.

"Adapun kemudian dari itu, sehubungan dengan tiga jenis pertanyaan dari tiga golongan yang telah engkau temui itu, beginilah keterangannya.

Adapun yang ditimbulkan oleh Hakikat Iman seseorang manusia itu, ialah adanya empat macam sifat pada dirinya: Dua yang wajib diingati dan dua yang wajib dilupakan.

Maka dua yang wajib diingati ialah jasa-jasa orang terutama nikmat Allah terhadap dirinya. Dan kedua, ialah kesalahan- kesalahan dan kejahatann dirinya terhadap orang lain, terutama dosa-dosanya terhadap Allah.

Serta dua macam yang wajib dilupakan, ialah jasa-jasa dan kebaikan dirinya kepada orang lain, termasuklah amal-amal dan ibadatnya kepada Allah.

Serta yang kedua, akan kesalahan-kesalahan dan kejahatan orang terhadap dirinya.

Dari itu, wahai Abdullah Syarafi, adapun orang yang engkau temui menderita di dalam rimba itu sengsara dengan sebab kekejaman-kekejaman dan aniaya orang ke atas dirinya, maka ia telah mengingat-ingati barang yang wajib dilupakan. Dan sebaliknya dia telah melupakan apa yang wajib diingati.

Diingat-ingatinya kejahatan penyamun yang dialaminya, tetapi ia melupakan jasa-jasa semut yang telah disuruh Allah untuk menghantarkan makanan ke mulutnya. Maka dengan demikian itu dia tidak mempumyai "Hakikat Iman", dan dari itu tidaklah akan masuk syurga.

Begitu pula tentang perempuan yang engkau temui mengasingkan diri ke tempat yang sunyi itu.

Ketahuilah bahawasanya agama itu disyariatkan Tuhan kepada umat manusia, ialah untuk membawakan ajaran dan petunjuk-petunjuk hukum bagi mereka, bagaimana adanya peraturan hubungan dengan Allah dan hubungan antara manusia.

Nyatalah dengan tindakannya mementingkan dirinya meninggalkan rumah tangga, suami dan anak-anak serta masyarakatnya itu, suatu tindakan putus asa, yang dengan sendirinya dia telah merosakkan ajaran agamanya sendiri kerana ia telah memutuskan hubungannya dengan manusia.

Padahal, menanggung kesusahan kerana perhubungan demgan manusia itu, baik berupa hubungannya dalam melayani kepentingan suami sendiri, anak-anak atau masyarakatnya, adalah yang demikian itu termasuk amal dan ibadat juga baginya. Dan itu juga termasuk ajaran-ajaran agama kepada manusia.

Dan lagi sebabnya Tuhan mengharamkan bunuh-membunuhnya dan peperangan terjadi, ialah kerana akibatnya memusnahkan isi dunia, memutuskan perhubungan antara manusia dan memutuskan keturunan. Sedangkan tujuan Tuhan ialah supaya dunia ini diramaikan dengan manusia.

Maka kalau sama sajalah pendapat segala manusia dengan perempuan itu, yang lelaki tidak hendak beristeri dan yang perempuan tidak pula hendak bersuami lagi, maka tentulah dengan sendirinya, paling lama sesudah satu keturunan yang akan datang ini, akan putuslah keturunan manusia, mereka akan musnahlah dari permukaan bumi. Dari itu, samalah dosanya dengan membunuh orang ramai.

Lagi pula yang dikehendaki oleh Hakikat-lman, ialah melupakan jasa-jasa diri, termasuk amalan dan ibadat kepada Tuhan. Maka sikap perempuan itu menunjuk-nunjukkan ibadatnya, seakan-akan ia telah berasa cukup mengadap Tuhan dengan ibadatnya itu.

Teranglah dengan demikian, dia pun tidak mempunyai Hakikat-lman. Kerana itu dia tidak akan masuk syurga, malahan masuk ke dalam golongan isi Neraka.

Tetapi tentang penyamun yang sembilan orang itu, mereka telah mengakui kesalahan-kesalahannya. Bahkan mereka telah saling merasa takut akan hukum siksaan, akibat daripada dosa-dosanya itu.

Maka justeru kerana itulah mereka telah bertanya tentang taubat kepada aku. Jikalau tiada kerana keinginannya hendak bertaubat itu, tentulah mereka tidak akan bertanya sedangkan Allah SWT. tidak pernah menutup pintu taubat buat sekalian hamba-Nya (kecuali dosa syirik), sekalipun banyaknya dosa-dosanya itu memenuhi ruang langit.

Dari itu, dengan demikian merekalah yang mempunyai Hakikat Iman. Dan jikalau mereka meneruskan taubatnya itu, maka merekalah yang akan masuk syurga ...."




Wahai anak, tidurlah di bawah aliran takdir, berbantal dengan kesabaran, setujuilah takdir, dan beribadah dengan menunggu kelapangan." 
~Sheikh Abdul Qadir Jailani~

Mari mengingati baginda, Rasulullah s.a.w

 Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


FirmanNya, surah al-Imran ayat 31.


“Katakanlah (Wahai Muhammad) “Jika benar kamu mengasihi Allah s.w.t.. Maka ikutilah daku, nescaya Allah s.w.t mengasihi kamu serta mengampuni dosa – dosa kamu.. Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani”..

Maha Suci Allah, yang menghadirkan kalammullah sebagai panduan kita, yang menunjukkan jalan kepada kita untukNYA mengasihi kita yang serba lemah, dan sentiasa mengharapkan pertolonganNYA. Segala puji dan puja hanya untukNYA.

Sesungguhnya, kita adalah umat akhir zaman, yang sedang terkapai-kapai mencari dan tercari-cari, perahu yang sebagaimana sekukuh untuk merentasi lautan yang dalam dan terbentang luas di hadapan kita. Maha Suci Allah, Maha Suci Allah.

Allah telah menghadirkan kepada kita, baginda Rasulullah s.a.w sebagai penunjuk jalan, dan para sahabat sebagai teladan kepada kita dalam meniti kehidupan kita kini. Segala puji dan puja bagiNYA.

Masih segar di dalam ingatan, kisah perjalanan dakhwah baginda di Taif, yang dilontar batu, yang dibaling dengan segala yang ada di tangan, sehingga badan suci baginda terluka dek kerana tindakan penduduk Taif. Dan Zaid bin Harith, pembantu setia baginda, menghamparkan badannya untuk melindungi tubuh suci itu. Allahu. Betapa baginda mengalami saat-saat yang sangat meruntun hati ketika mana baginda sebenarnya baru sahaja kehilangan dua orang yang amat penting di dalam perjalanan dakhwahnya, iaitu bapa saudaranya, Abu Thalib dan isteri kesayangannya, Siti Khadijah. Maha suci Allah. Sungguh, para anbiya' itu menghadapi ujian yang hebat demi tugas dakhwah. Maka berselawatlahNYA kepada Rasulullah s.a.w, dan diikuti ummatnya yang tidak putus-putus juga berselawat kepada baginda. 







Wahai sahabat, wahai saudaraku, marilah kita tidak putus-putus untuk terus berselawat kepada baginda. Jangan kita terlalu leka dan asyik dengan segala macam perkara dunia sehingga kita lupa untuk menanamkan perasaan cinta dan kasih kita kepada baginda.

"Akak masih tak faham kenapa kita kene berselawat?"

Adik di hadapan saya ini tersenyum dengan persoalan yang saya utarakan.

"Akak, Nabi kita ada kedudukan istimewa nak dibandingkan dengan nabi-nabi yang lain. Bagindalah satu-satunya nabi yang boleh memberi syafaat kepada kita. Bila kita berselawat kepada baginda, kedudukan baginda akan semakin tinggi, dan baginda akan memberi syafaat kepada kita. Jadi, akak, jangan malas nak berselawat ea"


Saya dan adik-adik saya ini tergelak. Jauh di sudut hati saya, saya bersyukur kerana diterangkan jelas tentang fadhilat perkara ini.


Maha Suci Allah, mengurniakan kita seorang nabi, seorang rasul, yang bukan sahaja membantu kita di dunia, tetapi di sana juga. Kasihilah, cintailah, sayangilah baginda melebih dari apa yang kita ada di dunia ini. 


"Dik, nak tahu tak, bila di dalam kedai buku, buku yang akak selalu akan cari adalah buku mengenai Rasulullah s.a.w. Nak tahu tak kenapa?"


"Nak, kenapa kak?"


"Cuba kita tengok orang yang bercinta, kalau mereka dengan kita, terkadang mereka tak sedar, mereka asyik dok cite pasal orang dia cinta je. Gitulah juga dengan kita, dik. Bagaimana kita nak mencintai baginda Rasulullah s.a.w kalau kita tak tahu kisah baginda. Bila kita tahu tentang baginda, secara tak sedar juga, lidah kita akan terbiasa pula untuk bercerita tentang kisah kekasih yang kita cinta, iaitu Rasulullah s.a.w. Kita kene berusaha untuk mencintai baginda lebih dari diri kita. Ingat, saidina Umar al-Khattab pernah ditegur oleh baginda apabila dia menyatakan bahawa dia mencintai Rasulullah selepas dirinya. Rasulullah kata, tak beriman jika umatnya itu lebih mencintai selain Allah dan Rasulu, lebih dariNYA dan baginda. Jadi, kene cuba belajar untuk meletakkan Allah dan Rasul itu yang pertama"


Maha Suci Allah. Contohilah baginda, teliti sirah baginda, fahami apa yang telah baginda tanggung untuk menyelamatkan kita dari tersesat dengan fahaman yang memesongkan akidah kita. 


"Wahai Muhammad, jika menginginkan agar gunung-gunung dan segala hidupan untuk ditimpa kepada penduduk Taif, akan berlakulah perkara itu dengan izin Allah"


Lalu, baginda dengan rasa kasih, menjawab kepada Allah, "Ya Allah, berikan mereka hidayah, ya Allah, berikan mereka petunjuk ya Allah, sesungguhnya mereka tidak tahu..mereka tidak tahu"


Allah, betapa kasihnya baginda kepada kita, wahai sahabat dan saudara seislamku. Sedaya upayanya baginda akan tetap sentiasa mengingati ayat quran, di dalam surah al-Anbiya', ayat 197 :


Dan tidaklah Kami mengutuskanmu kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam.


Rasulullah s.a.w itu adalah sebagai rahmat buat kita semua. Segala jerih payah, sakit dan terluka, kesedihan dan hiba, baginda pendam semata-mata untuk menyelamatkan kita semua dari tersesat jauh. Allahu..


Jadilah kita umat baginda yang sentiasa dan acap kali untuk terus-terusan berselawat dan menginagti segala jasa baginda. Jatuh kasihlah kalian kepada kesantunan baginda. Maha Suci Allah.


Marilah kita berpesta selawat, hiasi hari-hari kalian dengan selawat dan mengingatiNYA. Semoga kita tergolong di dalam umat baginda yang akan memperolehi syafaat dan dikumpulkan bersama-sama dengan yang dicintai, iaitu Allah dan Rasul..


Insya Allah..


Wahai anak, tidurlah di bawah aliran takdir, berbantal dengan kesabaran, setujuilah takdir, dan beribadah dengan menunggu kelapangan." 
~Sheikh Abdul Qadir Jailani~

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Aishah r.a.hu telah bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w.:”Adakah diantara pengikut-pengikutmu yang akan memasuki syurga tanpa perhitungan?”Nabi Muhammad s.a.w. menjawab:”Ya, dia ialah orang yang banyak menangis menyesali segla dosa-dosanya yang telah ia lakukan.”